Menulis Supaya Bisa Berpikir
Saya tidak menulis karena sudah paham. Saya menulis untuk mengetahui bagian mana yang belum saya pahami.
Setiap kali saya yakin sudah mengerti sesuatu, cara tercepat menguji keyakinan itu adalah menjelaskannya dalam tulisan. Biasanya saya tersangkut di paragraf ketiga — dan tempat tersangkut itu justru bagian yang selama ini saya lewati.
Draft pertama untuk diri sendiri
Draft pertama saya selalu jelek dan itu memang tugasnya: mengeluarkan isi kepala tanpa penyuntingan. Baru di draft kedua saya bertanya siapa pembacanya, dan mana bagian yang bisa dibuang. Rata-rata setengahnya hilang.
- Kalau satu paragraf bisa dihapus tanpa mengubah kesimpulan — hapus.
- Kalau satu kalimat butuh dibaca dua kali — pecah.
- Kalau saya memakai istilah untuk terlihat pintar — ganti.
Tulisan yang jernih bukan hadiah untuk pembaca. Ia bukti bahwa penulisnya benar-benar sudah berpikir.
Kenapa dipublikasikan
Menulis untuk diri sendiri cukup untuk berpikir, tapi tidak cukup untuk jujur. Begitu ada kemungkinan orang lain membaca, standar saya naik — saya memeriksa klaim, mengecek contoh, membuang bagian yang cuma terdengar bagus.
Arsip ini bukan kumpulan kesimpulan final. Ia jejak proses. Beberapa tulisan lama sudah tidak saya setujui lagi, dan saya memilih tidak menghapusnya.